Presiden Rusia Vladimir Putin menunjukkan kekesalannya setelah Presiden Turki

Diposting pada

Jakarta – Parlemen Turki telah menyetujui permohonan Swedia untuk bergabung dengan NATO pada Selasa waktu setempat. Keputusan ini diambil setelah 20 bulan permohonan Swedia “ditolak” oleh pemerintah Presiden Recep Tayyip Erdogan.

Majelis umum Turki memberikan suara 287-55 untuk menyetujui permohonan Swedia, sehingga kini total 30 negara anggota NATO telah menyetujui Stockholm sebagai anggota aliansi tersebut.

“Kami mendukung perluasan NATO untuk meningkatkan upaya pencegahan aliansi… Kami berharap sikap Finlandia dan Swedia dalam memerangi terorisme menjadi contoh bagi sekutu kami yang lain,” kata ketua komisi urusan luar negeri parlemen dan anggota Partai AK yang berkuasa, Fuat Oktay, dikutip Reuters, Rabu (24/1/2024).

Erdogan sendiri diperkirakan akan menandatangani dokumen persetujuan segera. Dengan demikian, Swedia akan menjadi negara ke-32 yang bergabung dengan NATO, setelah sebelumnya Finlandia diterima sebagai anggota aliansi pada April tahun lalu.

“Hari ini kita semakin dekat untuk menjadi anggota penuh NATO,” ujar Perdana Menteri (PM) Swedia Ulf Kristersson di media sosial setelah pemungutan suara, dikutip AFP.

Sementara itu, Sekretaris Jenderal NATO Jens Stoltenberg menyambut baik langkah ini dan mendesak Hongaria untuk segera melakukan hal yang sama.

“Saya juga mengandalkan Hongaria untuk menyelesaikan ratifikasi nasionalnya sesegera mungkin,” katanya, menyebut negara anggota NATO lain yang belum menyetujui masuknya Swedia.

“Keanggotaan Swedia membuat NATO lebih kuat dan kita semua lebih aman,” tegasnya.

Sebelumnya, Swedia dan Finlandia menerapkan kebijakan non-blok militer selama era Perang Dingin antara Uni Soviet dan Barat. Namun perang Rusia di Ukraina telah mengubah perhitungan geopolitik dan membuat kedua negara ini mencari perlindungan nuklir yang diberikan oleh blok pertahanan paling kuat di dunia.

PM Hongaria Viktor Orban dilaporkan telah mengundang mitranya dari Swedia ke Budapest untuk membahas tawaran keanggotaan NATO, Selasa. Meskipun muncul petunjuk mengenai ketegangan antara Stockholm dan Budapest.

Sebenarnya, Orban dan Erdogan telah menjaga hubungan baik dengan Presiden Rusia Vladimir Putin selama perang Ukraina. Namun, para pemimpin NATO khawatir bahwa Kremlin mencoba memanfaatkan kedua pemimpin ini untuk memicu perpecahan di Barat.

Mengapa Erdogan Keberatan?

Erdogan awalnya keberatan dengan keanggotaan Swedia karena negeri itu menerima kelompok Kurdi yang dianggap Ankara sebagai “teroris”. Namun, Swedia telah mengambil langkah-langkah keamanan yang diminta oleh Erdogan, termasuk memperketat undang-undang anti-terorisme.

Namun, Erdogan kemudian mengalihkan perhatiannya ke janji AS yang belum terpenuhi untuk mengirimkan sejumlah jet tempur F-16. Sebelumnya, ini mendapat pertentangan dari Kongres AS karena Turki dianggap mengalami kemunduran dalam hal hak asasi manusia dan perselisihan dengan sesama anggota NATO, Yunani.

Turki juga ingin Kanada menepati janjinya untuk mencabut larangan penjualan komponen utama yang digunakan untuk membuat drone tempur. Hal ini diyakini menjadi kompromi khusus bagi Erdogan.

Artikel SelanjutnyaErdogan Blak-blakan Niat Putin Berikutnya di Perang Ukraina

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *