"Menelisik Potensi Saham Produsen CPO di Tengah Ramalan Menurunnya Produksi Tahun Ini"

Melirik Prospek Saham Produsen CPO di Tengah Prediksi Penurunan Produksi Tahun Ini

Diposting pada

Berdasarkan perkiraan dari Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), produksi minyak kelapa sawit alias crude palm oil (CPO) diproyeksi akan mengalami penurunan di tahun 2024. Hal ini disebabkan oleh aktivitas agronomis yang minim pada tahun 2022 dan 2023, seperti pemupukan yang kurang dan faktor iklim yang tidak mendukung. Selain itu, harga CPO yang tidak membaik juga akan berdampak pada harga tandan buah segar (TBS) yang rendah.

Menurut analis Ciptadana Sekuritas Asia, Yasmin Soulisa, meskipun terdapat potensi penurunan produksi di tahun 2024, hal ini justru dapat menjadi sentimen positif untuk kenaikan harga CPO. Yasmin memperkirakan harga CPO global akan mencapai level MYR 4.500 per ton di tahun 2024, yang merupakan kenaikan 17,4% dari harga rata-rata tahun 2023.

“Pertumbuhan pendapatan emiten CPO di tahun ini akan lebih banyak didorong oleh kenaikan harga, sementara produksi akan tetap stabil,” ujar Yasmin kepada Kontan, Selasa (23/1).

Yasmin merekomendasikan untuk tetap netral terhadap sektor CPO di tahun ini, meskipun terdapat beberapa sentimen negatif. Namun, masih terdapat sentimen positif di kuartal I 2024 dari Tahun Baru Imlek dan bulan Ramadan yang biasanya meningkatkan permintaan. Untuk saham emiten CPO, Yasmin merekomendasikan untuk membeli saham AALI, DSNG, LSIP, TBLA, dan TAPG dengan target harga masing-masing Rp 10.200 per saham, Rp 760 per saham, Rp 1.140 per saham, Rp 910 per saham, dan Rp 670 per saham.

Yasmin juga merekomendasikan untuk tetap hold terhadap saham SIMP dengan target harga Rp 400 per saham.

Senior Investment Information Mirae Asset Sekuritas Indonesia, Muhammad Nafan Aji Gusta, mengatakan bahwa penurunan produksi CPO di tahun ini akan mempengaruhi kinerja harga saham para emiten CPO. Namun, kondisi geopolitik yang masih panas di tahun 2024 dapat menopang kinerja harga CPO agar tidak terlalu jatuh.

“Tetapi, ini tetap bergantung pada seberapa besar tensinya. Jika tidak terlalu besar, kemungkinan besar harga CPO masih stabil,” ungkapnya.

Nafan merekomendasikan untuk tetap hold terhadap saham AALI dan LSIP dengan target harga masing-masing Rp 7.200 per saham dan Rp 880 per saham.

Dengan adanya penurunan produksi CPO di tahun ini, hal ini juga berdampak pada kinerja harga saham para emiten CPO. Namun, masih terdapat sentimen positif di tahun 2024 yang dapat menopang kinerja harga CPO agar tidak terlalu jatuh.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *